Resensi Buku The Borrowed 13.67 by Chan Ho-Kei


Judul : The Borrowed 13.67

Penulis : Chan Ho-Kei

Penerjemah : Ratih Susanty

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2019

Tempat Terbit : Jakarta

Ketebalan : 544 hlm., 20 cm. 


Blurb

Kwan Chun-dok mendapat julukan Sang Mata Surga karena caranya mengikat detail lokasi dan kemampuannya mengindentifikasi tersangka hanya dari cara berjalannya. Kwan mampu mengartikan petunjuk dan menggali sisi psikologis pelaku kejahatan hingga tingkat keberhasilannya dalam memecahkan kasus nyaris seratus persen. Bersama timnya, termasuk anak didiknya, Sonny Lok, Kwan berhasil menemukan petunjuk tak kentara yang menjadi pemicu tindak kejahatan.

Buku The Borrowed 13.67 ini bermula di tahun 2013, saat Sonny Lok, seorang inspektur yang sedang menangani kasus kematian misterius seorang Bos besar bernama Yuen Man-Bun, yang meninggal akibat ditembak menggunakan harpun dari senapan tombak. Untuk menyelesaikan kasus ini, Sonny meminta para kerabat korban yakni ke dua anak lelaki korban (Wing-yee dan Wing-lim), istri Wing-yee, seorang pelayan, dan sekretaris pribadi korban.

Sonny yang dibantu oleh rekannya Ah Sing dan Apple –si ahli komputer– mencari siapa pelaku dari kasus pembunuhan tersebut. Dengan cara sang inspektur mengintrogasi? Para saksi dengan metode dan cara berpikir dari mentornya –Kwan Chun-dok– akhirnya Sonny dapat mengupas penyebab dan siapa dalang dibalik terbunuhnya Yuen Man-Bun

Bab selanjutnya, kita akan mundur ke tahun 2003 dengan kasus yang berbeda. Pada bab ini kita akan berfokus pada dan Kwan dan Sonny. Kasus yang dibahas mengenai pengusaha dari dunia hitam –Bos Chor– yang melakukan bisnis ilegal yang juga mendirikan Perusahaan Starry Night Entarnaiment yang membina banyak penyanyi dan foto model. Hingga suatu hari, Unit Kriminal Yau-tsim menerima sebuah kiriman paket misterius berupa amplop karton berisi kepingan CD dan kartu anonim yang ternyata dikirim oleh seorang wartawan. CD itu berisikan video yang berdurasi 3 mennit 28 detik yang memperlihatkan kejadian menegangkan seorang selebriti Candy Ton yang sedang dikajar-kejar oleh beberapa pria dan yang berencana membunuhnya. Kasus Candy Ton ini menjadi kunci dari tekaitnya organisasi Triad di Kowloon Barat dan Yau-Tsim.

Alur kembali mundur ke tahun 1997 yang lebih befokus pada kasus yang ditangani oleh Kwan. Kasus yang terjadi di tahun ini ialah terjadi penyerangan bom asam  di Graham Street –pasar terbuka di Hong Kong– dan di saat yang bersamaan terjadi kaburnya narapidana Shek Boon-tim, mantan buronan yang paling dicari berhasil kabur. Tahun 1989 terjadi penangkapan Komplotan Kriminal Shek bersaudara –Shek Boon-tim dan Shek Boon-sim– di Ka Fai Mansion, kompleks perumahan di Reclamation Street. Aksi yang berakhir memakan banyak korban dan informan dari internal kepolisian.

Tahun 1977 Kwan menangani permasalahan terkait dugaan terjadinya penculikan dan pemerasan terhadap Graham Hill, seorang asal Inggris yang bekerja sebagai penyelidik di Anti Korupsi Hong Kong (KIAK), terhadap keluarganya. Dugaan tersebut diklaim oleh Kwan karena Mr. Hill mengetahui siapa saja pejabat pemerintah dan kepolisian yang melakukan aksi korupsi, di mana pada saat itu marak terjadi tindak korupsi, yang akhirnya membentuk departemen penegak hukum KIAK. Tahun 1967, tahun di mana Hong Kong berhadapan dengan Pemberontakan Kelompok Kiri yang mana mereka ingin memerdekakan Hong Kong dari kolonial. Sang narator bersama dengan seorang polisi berusaha menghentikan rencana Kelompok Kiri untuk membunuh Komisaris Polisi.



Novel ini tidak pernah saya sangka akan baca. Saya menemukan novel ini di jajaran rak buku di toko buku, yang saya kira awalnya berasal dari Negeri Ginseng, namun ternyata novel ini berasal dari Hong Kong dan jadi novel perdana dari Hong Kong yang saya baca. Saat baca blurb-nya, saya tertarik bagaimana Kwan Chun-dok bisa menangkap para pelaku hanya dengan menganalisis dari sisi psikologisnya? Saya sedikit kecewa saat baca ini. Saya kira, nanti saya akan dijabarkan seperti apa analisis psikologis yang dia lakukan, seperti pada serial barat Lie To Me. Memang metode yang dia lakukan menggunakan pendekatan psikologis, namun tidak mendetail dan lebih condong pada permainan kata-kata, penalaran, dan tingkat ketelitian yang tinggi. Saya sampai tidak menyadari clue yang ada sampai Superintenten Kwan menjelaskan secara gamblang apa saja yang terlewat oleh saya, yang membuat saya berkata “Oh iya ya,” berkali-kali. Padahal cluenya bisa terpikirkan jika kita teliti membayangkan situasi dan kejadian yang ada.

Novel ini mengambil tahun-tahun yang bisa dibilang bersejarah di Hong Kong (yang tertera juga di belakang novelnya), seperti Pemberontakan Kelompok Kiri di tahun 1967, konflik antara Polisi Hong Kong dan Komisi Independen Anti Korupsi Hong Kong tahun 1977, Pembantaian Tiananmen tahun 1989, Serah-Terima Kekuasaan tahun 1997, dan Hong Kong di tahun 2013.

Penulisnya, Cha Ho-kei, menuliskan catatan di akhir novel alasan beliau membuat novel ini, dan mengapa mengambil topik dan alur cerita seperti ini. Beliau juga memenangkan Penghargaan Cerita Misteri Soji Shimada yang bisa kalian baca salah satu review novelnya di sini.

Cha Ho-kei juga mengungkapkan bahwa lokasi-lokasi yang dipakai dalam cerita merupakan lokasi asli yang bikin saya jadi pengen ke Hong Kong hehe. Novel ini juga unik banget, karena alur ceritanya berjalan mundur. Jujur, saat baca ini saya harus membuka lembar-lembar sebelumnya untuk tahu bagaimana nasib tokoh tertentu. Mungkin kesulitannya karena jarak waktu antar bab itu lumayan jauh, sekitar enam hingga dua belas tahun, dan di tiap bab diceritakan hanya bagian yang penting aja, yang enggak begitu penting hanya akan diungkit di suatu dialog tanpa ada cerita detail tersendiri di suatu bab.

Ada satu lagi yang bikin cerita ini buat saya berdecak kagum. Semua bab punya benang merah yang mengaitkan antar tahun yang satu dengan yang lainnya. Walapun di tiap bab membahas kasus yang berbeda-beda, tapi pasti ada benang merah itu. Dan ending di bab akhir benar-benar membuat saya merasa jungkir balik. Saya mulai menyadari benang merah pada bab dua atau tiga, yang akhirnya membawa saya berpikir apa sangkut paut kasus di bab pertama, yang terjadi di tahun 2013, yang akhirnya terjawab. Sebetulnya saya malah mengira tahun 2013 itu hanya selingan saja, alias tidak itu ada hubungannya dengan tahun-tahun sebelumnya.

Membaca novel ini membuat saya berpikir kalau peristiwa pemberontakan hingga dunia kepolisiannya sama seperti di negara ini. Saat baca “Bab Enam Waktu Pinjaman 1967”, banyangan saya langsung terbang ke peristiwa di tahun 1998, di mana orang yang berada di atas punya kekuasaan lebih. Selain itu, saya jadi tahu kebiasaan atau budaya masyarakat Hong Kong saat itu. Dan yang paling penting, setelah baca novel ini, kalian akan merasa puas karena semua kasus dan permasalahan bisa diketahui sama pembaca secara clear. Jadi kita enggak dibuat penasaran sampai enggak bisa tidur karena mikirin akhir tokoh si ini gimana ya? Atau gimana kasusnya berakhir.

Okee sekian resensi dari saya. Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian baca blog saya. Sampe ketemu di postingan berikutnya yaa. Adios!