Judul: The Tokyo Zodiac Murders : Pembunuh Zodiak Tokyo

Pengarang: Soji Shimada

Penerjemah: Barokah Ruziati

Tahun terbit: 2012 (cetakan ke-7 :2021)

Ketebalan: 360 hlm.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


    Cerita dibuka dengan diari Heikichi Umezawa yang merencanakan secara detail bagaimana mencipatakan makhluk atau wanita tercantik dan paling sempurna yang pernah ada, dengan merujuk pada ilmu-ilmu astrologi dan dua belas tanda perbintangan, atau yang sering kita tau namanya zodiak, yang mana mengharuskannya mendapatkan bagian-bagian tubuh perempuan perawan yang berbeda untuk dijadikan Azoth, nama makhluk sempurna itu.

    Alur lalu lompat ke 40 tahun kemudian, dimana berita tentang pembunuhan zodiak masih hangat untuk dibahas. Bagaimana tidak, ditemukan potongan-potongan tubuh perempuan yang sudah tidak utuh anggota tubuhnya, dikubur di bawah tanah dengan kedalaman yang berbeda-beda, dan lokasi yang berbeda-beda pula.

    Namun yang menjadi misteri, hingga 40 tahun lamanya setelah kejadian, polisi serta masyarakat tidak bisa menebak siapa pelaku sesungguhnya  dari pembunuhan enam gadis tersebut. Pasalnya, Heikichi Umezawa ditemukan tewas di studio lukisnya, dan kematiannya dicurigai sebagai pembunuhan. Tewasnya Heikichi Umezawa pun sebelum kejadian pembunuhan zodiak terjadi. Dan anehnya lagi, beberapa hari setelah kematian Heikichi,  Kazue Kanemoto, anak tiri tertua Heikichi juga ditemukan tewas terbunuh, dan diduga diperkosa oleh pelaku setelah Kazue dibunuh. Barulah setelah kejadian tersebut, pembunuhan zodiak terjadi. Korban dari pembunuhan zodiak ini terdiri dari empat orang anak Heikichi (dua di antaranya anak tiri) dan dua orang keponakan Heikichi, anak dari Yoshio Umezawa, saudara laki-laki Heikichi.

    Tewasnya Heikichi menimbulkan banyak tersangka, diantaranya Yoshio, Masako Umezawa (istri kedua Heikichi, Tae Umezawa (istri pertama Heikichi), Ayako Umezawa (istri Yoshio), hingga anak-anak Heikichi sendiri, yang saat itu masih dalam keadaan hidup.

    Banyak orang yang mempertanyakan keterkaitan dari ketiga pembunuhan tersebut, yang mana korbannya merupakan keluarga Umezawa. Hingga banyak yang mengira bahwa keluarga tersebut terkutuk dan sial. Lalu sebenarnya siapa pelaku dari pembunuhan-pembunuhan tersebut? Apakah tiga kejadian tersebut dilakukan oleh orang yang sama? Apakah pelaku melakukannya secara sendiri atau berkelompok? Apakah Azoth akhirnya benar-benar tercipta? Akan banyak muncul pertanyaan saat membaca buku ini, dan misteri sedikit demi sedikit meneumkan jalan terang.

    Kita akan diajak untuk menjadi seorang detektif berasama Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog, peramal nasib dan detektif partikelir, dan ditemani dengan rekannya, seorang ilustrator dan detektif amatir bernama Kazumi Ishioka, yang akan menemani kita memecahkan kasus yang tidak bisa dipecahkan oleh polisi setempat.


Kelebihan :

    Buku ini punya kesan yang membekas dan pesan tersurat yang relate dengan kondisi nyata. Saya malah jadi bersimpati dengan si pelaku karena alasan dia melakukan pembunuhan itu. Jika kalian suka ataupun pernah membaca buku Sherelock Holmes karya Arthur Conan Doyle, kalian akan merasa familiar dengan model narasinya, karena pemaparannya digambarkan dari sudut pandang Kazumi Ishioka, yang jika dalam cerita sharelock holmes sebagai Dr Watson. Kazumi Ishioka menceritakan apa yang dia lihat dan dia pikir tentang kasus tersebut dan rekannya Kiyoshi Mitarai.

    Selain itu, kita juga jadi mengetahui mengenai karya-karya seniman terkenal seperti Andre Milhaud, Gustave Moreau, hingga Van Gouh yang menjadi inspirasi lukisan Heikichi dalam buku ini.

Kekurangan:

    Di awal-awal bab mungkin akan sedikit sulit mengingat para tokoh dikarenakan jumlahnya yang cukup banyak, namun hal ini bisa diatasi karena di halaman awal, kita diberi daftar tokoh yang  ada dalam buku. Hal lain yang menjadi kekurangan adalah mengenai ilmu perbintangan yang dipaparkan, dilanjut dengan lokasi geografi dan perhitungan sudut bujur dan sudut lintang yang katanya menjadi pusat negara Jepang yang juga merupakan perhitungan untuk mengubur potongan-potongan gadis-gadis tersebut.

    Sebenarnya ada kekurangan dari model pemaparan kayak gini, karena kita cuma bisa mengetahui info atau fakta dari sisi Kazumi Ishioka aja, jadi kalau Ishioka kaget dengan info yang dia baru tau, saya pun ikutan kaget wkwk.

    Saya enggak tau apakah hanya cetakan yang saya beli saja (cetakan ke-7), atau cetakan sebelumnya juga sama, nomor halaman yang ada di daftar isi dengan yang tertera di halaman yang dituju berbeda. Jadi kalau kalian mau baca bab tertentu, kalian harus cari manual, tidak berpatokan pada halaman di daftar isi.



    Untuk kalian yang suka baca buku yang genrenya tentang detektif dan misteri buku ini cocok banget buat dibaca. Setiap baca babnya, rasanya ga mau berhenti karena selalu dibuat gantung di tiap akhir bab sampai rasanya geregetan. Saya suka bukunya yang ngasih kita nama-nama dan peran dari para tokohnya, karena jumlahnya yang banyak dan saya juga enggak begitu bisa hafal nama yang kurang familiar. Karena saya jarang baca novel Jepang, jadi kita bisa buka lagi halaman depan terus inget-inget siapa sih tokoh ini.

    Penempatan nomor halamanya juga enggak biasa. Nomor diletakkan di tengah-tangah pinggir buku. Lalu yang bikin saya salah nebak (lebih tepatnya terkecoh) model penulisan buku ini pada daftar isinya. Daftar isi dibuat seperti menggambarkan kalau cerita di buku ini diperagakan atau dipentas senikan, dan para karakternya diperankan oleh para pemain  teater. Kenapa pikiran ini terlintas di benak saya, karena daftar isinya ini tidak dinamai dengan bab, namun dengan babak, persis seperti drama teater.

Contohnya seperti ini

Babak satu: Misteri yang Tak Terpepcahkan, 40 Tahun Kemudian

Adegan 1. Jejak Kaki di Salju

Adegan 2. ...

Adegan 3. ...

Adegan 4. ...

Adegan 5. ...

Intermeso. ...

 

    Tiap babak punya jumlah adegan yang berbeda-beda. Selain itu, mengapa saya berpikir ini digambarkan seperti pentas seni, karena karya-karya William Shakespeare memiliki daftar isi yang seperti itu juga, jadi saya agak khawatir jika memang model ceritanta seperti Hamlet atau Romeo & Juliet itu, yang hanya dialog dan minm narasi. Namun pemikiran itu salah dan malah bukunya memiliki model pemaparan cerita mirip dengan cerita detektif terkenal asal inggris.

    Saya baru bisa menebak siapa pelaku sebenarnya di Babak 5 Adegan 1 yang benar kata penulis buku, Soji Shimada, bahwa pelaku sebenarnya sudah dicurigai oleh para polisi sejak awal kejadian pembunuhan, namun penulis sangat pintar sekali membuat kita penasaran untuk baca sampai habis. Jika pelaku udah kita ketahui identitasnya, kita enggak perlu pusing-pusing dan muter-muter buat cari siapa pelaku sebenarnya.

    The Tokyo Zodiac Murders adalah buku pertama karya Soji Shimada yang saya baca. Temanya sangat unik dan judulnya memang menggambarkan alurnya. Buku ini merupakan karya debut Soji Shimada yang terbit tahun 1987 di Jepang dan berhasil meduduki peringkat best seller. Saya sempat mengira buku ini akan berisi sama seperti kejadian pembunuhan berantai yang terjadi di Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an hingga awal 1970-an yang ceritanya sudah difilmkan.

    Saya lagi mengincar buku Murder In The Crooed House yang juga karya dari Soji Shimada, tapi saya belum nemu buku yang bisa saya pinjem hehe. Oke cukup segini aja. Sampai ketemu di review-review selanjutnya. Adios!