Photo by Ijar on Unsplash

    Transportasi menjadi hal penting untuk pendukung aktifitas sehari-hari kita. Bagi yang bisa mengendarai kendaraan pribadi, seperti motor dan mobil, tidaklah memerlukan persyaratan khusus untuk menaikinya. Namun berbeda halnya dengan menaiki transportasi umum. Terutama di saat pandemi yang masih terjadi hingga saat ini. Bagi saya, yang tidak begitu mahir dalam mengendarai kendaraan pribadi, sangat terbantu dengan adanya transportasi umum. Apalagi lokasi saya yang berada di Jakarta memiliki berbagai macam pilihan transportasi yang bisa saya gunakan. Contohnya saja seperti transportasi TransJakarta, MRT dan JakLingko yang hanya ada di kawasan DKI Jakarta saja.

    Selama pandemi, masyarakat yang ingin menggunakan transportasi umum haruslah memiliki syarat-syarat, yang menurut saya pribadi agak memberatkan karena status saya yang masih mahasiswa. Syarat-syarat tersebut di antaranya ialah pengguna harus memilliki Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) yang sudah pasti tidak saya miliki. Selain STRP, pengguna juga harus menunjukkan sertifikat vaksin minimal dosis pertama. Persyaratan ini tadinya berlaku di semua tranportasi umum, baik TransJakarta hingga Commuter Line. Namun, ada kabar baik nih, untuk kalian yang tidak bisa ataupun tidak memiliki persyaratan tersebut.

    Agustus lalu, pemerintah telah menurunkan status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarkat (PPKM) di daerah Jakarta yang sudah berstatus level 3, yang mulanya berstatus level 4, yang melonggarkan peraturan termasuk untuk transportasi. Pelonggaran peraturan ini dapat dilihat dari ditambahnya kouta angkut penumpang dan juga  pengguna tidak perlu ribet lagi dengan persyaratan sebelumnya, dengan catatan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat dan disiplin.

    Untuk pengguna transportasi TransJakarta, pemberlakuan persyaratan tanpa STRP lebih dulu diterapkan dibandingkan dengan Commuter Line. Pengguna cukup menunjukkan sertifikat vaksin Covid-19 baik yang sudah mendapat dosis pertama maupun vaksin kedua - dan lebih baik jika kalian sudah dua kali vaksin. Hal serupa juga diterapkan pada moda transportasi MRT

    Sedangkan untuk pelonggaran dalam persayaratan pengguna Commuter Line, baru-baru ini diberlakukan. Sejak tanggal 8 september pengguna Commuter Line dapat menggunakan moda transortasi ini hanya dengan menunjukkan sertifikat vaksin saja dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Melalui media sosial resmi Twitter KRL, @commuterline, mengumumkan pemberlakuan tersebut. Adapun prokesnya adalah menggunakan masker berlapis yakni masker medis yang dilapisi dengan masker kain, ataupun masker yang tidak perlu ada lapisan ganda seperti KN95, N95 dan KF94.

    Penunjukkan bukti serifikat bisa dengan bentuk tercetrak, digital, ataupun dengan aplikasi Peduli Lindungi, yang menurut saya lebih mudah dengan aplikasi Peduli Lindungi karena kita hanya perlu scan barcode dan nanti akan terlihat kouta kapasitas dan jumlah pengguna yang ada di stasiun. Setelah scan itu, nanti bisa terllihat status “kesehatan” kita mulai dari tanda berwarna hijau, kuning, dan merah yang akan muncul di layar telepon pintar kalian. Jika tanda menunjukkan warna hijau, nanti petugas akan mempersilahkan kita untuk masuk. Jika menaiki TransJakarta, waktu itu sebelum masuk ke halte, saya hanya menujukkan sertifikat vaksin yang ada di aplikasi Peduli Lindungi lalu pengecekan suhu. Tidak ada melakukan scan barcode, dan bisa juga menunjukkan sertifikat dalam bentuk cetak. Di setiap gate sebelum kita mentap kartu, pasti disediakan Hand Sanitizer (penyitasi tangan) yang bisa kalian gunakan. Penyitasi tangan juga ada kok di sudut-sudut dalam transportasi, jadi kebersihan kalian terjaga.

    Lalu ada juga larangan-larangan seperti anak di bawah umur lima tahun dilarang untuk naik KRL (kecuali ada alasan yang mendesak), adanaya aturan waktu naik KRL bagi lansia, larangan berbicara secara langsung ataupun via telepon di dalam KRL, dan yang pastinya menjaga jarak.

    Pengalaman saya, yang akhirnya “berpetualang ke luar rumah” memang jadi pengalaman yang berbeda dari biasanya. Yang biasanya Commuter Line akan penuh sesak, saat saya menggunakan transportasi tersebut satu bulan terakhir ini tidaklah ramai, alias sepi. Tidak teralalu sepi, dan juga tidak terlalu ramai. Namun kondisinya agak sedikit berbeda saat saya menaiki TransJakarta. Saya malah sering mendapati bis yang lumayan penuh. Apalagi jika saya menaikinya di jam-jam orang kerja. Ada rasa sedikit khawatir sebenarnya, tapi saya yakin jika kita tetap menerapkan prokes dan selalu mencuci tangan setelah memegang sesuatu ataupun setelah dari luar, InsyaAllah kita akan terjaga. Telah menerima vaksin juga membantu kita jadi merasa lebih aman untuk berpergian dan berbarengan dengan orang lain.